Selasa, 20 Desember 2011
Bukan Apa-Apa
BAND
Kategori : Umum (Pelajar - Mahasiswa). Membawakan 1 buah lagu bebas & 1 jingle kreasi sendiri. Jingle harus ada kata go green, save our earth, dan stop global warming. Durasi maksimal penampilan 10 menit. Lewat dari waktu akan didiskualifikasi.
MADING 3D
Kategori : Pelajar SMA. 1 Tim terdiri dari 3 - 5 orang. 1 Sekolah boleh mengirimkan lebih dari 1 tim. Tema mading : go green. Ukuran mading maksimal 1x1 meter. Mading bersifat informatif dan harus berisikan minimal 1 buah artikel dari KOMPAS. Mading harus menggunakan bahan-bahan daur ulang. Artikel-artikel dalam mading harus ditulis tangan dan disiapkan dari rumah. Mading menjadi hak milik panitia.
KOMIK
Kategori : Umum (Individu). Tema : go green. Komik maksimal 1 halaman. Peralatan dibawa sendiri oleh peserta. Panitia hanya menyediakan kertas.
FOTOGRAFI
Kategori : Umum (Individu). Tema : go green. Gear : Pocket, Prosumer, DSLR. 1 Orang hanya boleh mengirimkan 1 buah foto. Foto harus diambil outdoor. Foto tidak boleh diedit. Foto harus diprint ukuran 10 R di atas kertas foto. Sertakan judul foto, keterangan, identitas, serta contact person di amplop coklat.
Ketua pelaksana : Meyrizka Dwinanda
Wakil ketua pelaksana : Alwy Musthafa
Sekretaris : Yoanda Pragita
Bendahara : Sherly Fitrah Anugrah
Seksi Acara
Koordinator : Widya Tria Kirana
Anggota :
Natalia Ade Athaya Wenni Pungky Namira Rinda Andriani Darmawi Mutiara Arya Andesta Dwi Cahyo Nugroho
Seksi Konsumsi
Koordinator : Rini Riwanti
Anggota :
Nadiah Indriyani Gita Fetrina Ermi Artati
Seksi Perlengkapan
Koordinator : Muhammad Tatang
Anggota :
Maulana Malik Aldino Motu Muhammad Idris Hafied Samuel Reynaldi Buyung Karisma
Seksi Humas, Publikasi dan Dokumentasi
Koordinator : Irvan Cendickya
Anggota :
Muhammad Janhari Ahmad Taruna Muhammad Noble
Runner
Koordinator : Yoanda Pragita
Anggota :
Azhar Hikmawan Rakhmat Nashrul Evan Paroq Alfajri Dawood
Minggu, 18 Desember 2011
20 Fakta Mengerikan Mengenai Masa Depan Kita dan Bumi
Bumi kita ini tidak akan bertahan selamanya, sedangkan kita bergantung pada bumi untuk bertahan hidup. Kita akan binasa semuanya apabila bumi hancur oleh berbagai sebab. Kedengarannya menakutkan sekali, tetapi kita perlu menyadari bahwa sumber daya bumi terbatas. Penggunaan sumber daya bumisecara serampangan seperti sekarang ini, bisa menyebabkan kehidupanmanusia berakhir dalam kehancuran.
Para ilmuwan berspekulasi mengenai perubahan-perubahan komposisi bumi, apakah itu tentang pemanasan global atau sumber daya mineral yang sudah mulai merosot. Marilah kita mengamati bagaimana kita secara perlahan namun pasti menuju kepada kehancuran yang dibuat oleh tangan kita sendiri.
1. Pemanasan global adalah satu peristiwa yang tak bisa dielakkan yang mempengaruhi kondisi iklim di bumi. Badai yang menghancurkan, gelombang air pasang, tsunami dan kelaparan akibat kekeringan akan terus berlanjut meskipun usaha-usaha untuk mengendalikan polusi dan kerusakan lingkungan telah dilakukan. Bumi berusaha untuk terus eksis dengan melakukan perbaikan alami, tetapi kita manusia akan menerima akibatnya dikarenakan proses perbaikan itu sangat dahsyat dan tidak terkendali.
2. Peningkatan kecil rotasi bumi diakibatkan ketidakseimbangan isi kandungan perut bumi yang terkuras, bisa mempengaruhi kita dengan berbagai cara. Banjir dahsyat yang menenggelamkan segalanya, atau gletser-gletser yang menghilang selamanya. Itu bisa berarti kekurangan air, pangan dan merajalelanya penyakit serta meluasnya kelaparan. Beberapa spesies hewan dan tanaman menjadi punah.
3. Terjadinya perubahan pola peruntukan tanah, di mana sekarang lebih banyak orang-orang hidup di kota-kota besar dibanding dengan di daerah pedesaan. Kota-kota penuh sesak sehingga harus memperluas areal untuk perumahan ke wilayah pedesaan dengan mengorbankan tanah pertanian. Kota besar yang kumuh dan kotor mengganggu kesehatan manusia dan menimbulkan bibit-bibit penyakit baru.
4. Produksi minyak mengalami peningkatan tahun 2008 dan 2018 akan mencapai puncaknya, dan itu berarti awal dari penurunan. Ini bisa menjadi pencetus suatu resesi energi global, konflik antar negara yang memperebutkan lahan minyak dan juga sumber makanan. Minyak sangat penting bagi setiap bangsa untuk melanjutkan aktivitas produksinya, termasuk pertanian dan peternakan. Kedepannya, menipisnya kandungan minyak di bumi bisa mempengaruhi hidup seluruh manusia di bumi secara signifikan.
5. Mobil mempunyai andil sebesar 3/4 dari semua gas buang yang dipancarkan alat transportasi. Sejak saat ini, dunia akan dipenuhi lebih dari satu milyar mobil yang berkeliaran di jalan-jalan di tahun 2030 dan akan bertambah hingga satu milyar lagi di tahun 2050. Hal berhubungan dengan 75% peningkatan CO2 selama setahun di atmosfer berasal dari pembakaran bahan bakar fosil (minyak bumi, gas bumi dan batu bara), sedangkan sekitar 20% CO2 yang memasuki atmosfer bumi berasal dari pembakaran BBM pada mesin-mesin kendaraan bermotor, selebihnya 80% emisi CO2 bersumber dari pembakaran bahan bakar fosil oleh mesin pembangkit tenaga listrik.
6. Karena peningkatan suhu udara akibat meningkanya kadar CO2, maka sedikit uap air bertahan di udara untuk membentuk awan. Hal ini berarti hujan akan menjadi lebih sedikit, dan secara langsung berakibat hasil produksi pertanian juga menurun. Akan terjadi di sekitar tahun 2020 di mana terjadi suatu periode yang sulit dan air bah tiba-tiba meningkat di semua bagian dari benua Eropa, karena mencairnya es di Kutub Utara. Sedangkan populasi penduduk bumi akan mencapai 7,7 milyar orang.
7. Sejak Hari Bumi yang pertama tahun 1970 hingga awal millennium baru, manusia telah membuat peningkatan emisi (gas buang) rumah kaca sebesar 70%.
8. Atmosfer bumi sekarang mengandung 40% lebih banyak CO2 dibandingkan dengan di awal Revolusi Industri.
9. Hasil pembakaran bahan bakar fosil dewasa ini menambah hampir 6 milyar ton CO2 ke dalam atmosfer bumi setiap tahunnya. Hanya separuhnya yang diserap oleh hutan-hutan dan samudera.
10. Hutan hujan pernah meliputi 14% dari permukaan bumi. Sekarang hanya tersisa sekitar 6% dan menurut perkiraan para ahli hutan hujan yang tersisa itu akan habis dikonsumsi kurang dari 40 tahun. 1 sampai 1,5 hektar hutan hujan lenyap setiap 1 detik sebagai konsekuensi tragis pembangunan di negara-negara industri dan berkembang.
11.Hampir separuh dari semua jenis flora, fauna dan mikro organisme akan musnah atau pasti terancam kepunahan dalam seperempat abad ke depan disebabkan oleh penebangan hutan-hutan hujan.
12. Perkiraan para ahli bahwa kita sedang kehilangan 137 jenis tanaman, hewan dan serangga setiap harinya karena penebangan hutan-hutan hujan. Atau sama dengan 50.000 jenis setiap tahunnya. Seiring dengan lenyapnya spesies-spesies di hutan hujan, demikian juga dengan berbagai macam pengobatan penyakit-penyakit yang mengancam hidup manusia. Sekarang ini, 121 obat-obatan yang dijual ke seluruh dunia berasal dari tanaman obat-obatan. Sementara itu 25% dari perusahaan obat-obatan di Barat mengambil bahan dari ramuan tanaman dari hutan hujan, dan lebih sedikit 1% dari pohon-pohon dan tanaman-tanaman tropis ini telah diuji coba oleh para ilmuwan.
13. Penebangan hutan yang merajalela sekarang ini menyumbang 20% polusi pemanasan global diakibatkan oleh terhambatnya penyerapan kembali CO2.
14. Wabah penyakit terus bertambah baik ragam maupun jumlahnya karena polusi udara, air dan tanah meningkat, terutama sekali terjadi di negara-negara dengan pendapatan rendah.
15. Di tahun 2030 sekitar 18% dari gugusan karang laut akan lenyap karena perubahan iklim dan lingkungan. Dalam 2030 ini populasi penduduk dunia akan mencapai 8,3 milyar.
16. Tahun 2040 laut di Kutub Utara akan mengalami musim panas yang pertama tanpa es.
17. Karena menghilangnya gletser dan terjadi musim kering yang panjang, produksi listrik dari pembangkit listrik tenaga air akan berkurang.
18. Luas padang pasir di permukaan bumi mengalami peningkatan disebabkan menaiknya suhu bumi. Pada akhir tahun 2007, Australia kehilangan 25% produksi pangannya karena hal ini.
19. Kadar karbon monoksida (CO) di atmosfer bumi terus meningkat.
20. Efek berbahaya dari aktivitas manusia dapat mempengaruhi sistem global dengan cara yang negatif. Perang, sebagai contoh, dapat menghancurkan bumi dalam berbagai jalan; pembunuhan massal, berkembangnya kelaparan dan penyakit, pembakaran bahan bakar fosil secara besar-besaran oleh mesin-mesin perang, termasuk juga pembabatan hutan dan pengambilan batu-batuan dan tanah untuk perbaikan kembali infrastruktur yang rusak.
Sebuah pertanyaan untuk kita semua; apakah upaya kita untuk ikut membantu kelestarian alam sekarang ini bisa memberi dampak yang berarti dan signifikan, ataukah secara ironi aktivitas kita lainnya malah mempercepat kerusakan dan kehancuran bumi?
menulis II
Metode Pembelajaran Menulis
5 Votes
a. Metode Langsung
Metode pengajaran langsung dirancang secara khusus untuk mengembangkan belajar siswa tentang pengetahuan prosedural dan pengetahuan deklaratif yang terstruktur dengan baik dan dapat dipelajari selangkah demi selangkah. Metode tersebut didasari anggapan bahwa pada umumnya pengetahuan dibagi dua, yakni pengetahuan deklaratif dan pengetahuan prosedural. Deklaratif berarti pengetahuan tentang bagaimana melakukan sesuatu. Dalam metode langsung, terdapat lima fase yang sangat penting. Guru mengawali dengan penjelasan tentang tujuan dan latar belakang pembelajaran serta mempersiapkan siswa untuk menerima penjelasan guru. Hal itu disebut fase persiapan dan motivasi. Fase berikutnya adalah fase demontrasi, pembimbingan, pengecekan, dan pelatihan lanjutan.
Pada metode langsung bisa dikembangkan dengan teknik pembelajaran menulis dari gambar atau menulis objek langsung dan atau perbandingan objek langsung. Teknik menulis dari gambar atau menulis objek langsung bertujuan agar siswa dapat menulis dengan cepat berdasarkan gambar yang
dilihat. Misalnya, guru menunjukkan gambar kebakaran yang melanda sebuah desa atau melihat langsung kejadian kebakaran sebuah desa, Dari gambar tersebut siswa dapat membuat tulisan secara runtut dan logis berdasarkan gambar.
Metode pengajaran langsung dirancang secara khusus untuk mengembangkan belajar siswa tentang pengetahuan prosedural dan pengetahuan deklaratif yang terstruktur dengan baik dan dapat dipelajari selangkah demi selangkah. Metode tersebut didasari anggapan bahwa pada umumnya pengetahuan dibagi dua, yakni pengetahuan deklaratif dan pengetahuan prosedural. Deklaratif berarti pengetahuan tentang bagaimana melakukan sesuatu. Dalam metode langsung, terdapat lima fase yang sangat penting. Guru mengawali dengan penjelasan tentang tujuan dan latar belakang pembelajaran serta mempersiapkan siswa untuk menerima penjelasan guru. Hal itu disebut fase persiapan dan motivasi. Fase berikutnya adalah fase demontrasi, pembimbingan, pengecekan, dan pelatihan lanjutan.
Pada metode langsung bisa dikembangkan dengan teknik pembelajaran menulis dari gambar atau menulis objek langsung dan atau perbandingan objek langsung. Teknik menulis dari gambar atau menulis objek langsung bertujuan agar siswa dapat menulis dengan cepat berdasarkan gambar yang
dilihat. Misalnya, guru menunjukkan gambar kebakaran yang melanda sebuah desa atau melihat langsung kejadian kebakaran sebuah desa, Dari gambar tersebut siswa dapat membuat tulisan secara runtut dan logis berdasarkan gambar.
b. Metode Komunikatif
Desain yang bermuatan metode komunikatif harus mencakup semua keterampilan berbahasa. Setiap tujuan diorganisasikan ke dalam pembelajaran. Setiap pembelajaran dispesifikkan ke dalam tujuan kongkret yang merupakan produk akhir. Sebuah produk di sini dimaksudkan sebagai sebuah informasi yang dapat dipahami, ditulis, diusahakan, atau disajikan ke dalam nonlinguistik. Sepucuk surat adalah sebuah produk. Demikian pula sebuah perintah, pesan, laporan atau peta juga merupakan produk yang dapat dilihat dan diamati. Dengan begitu, produk-produk tersebut dihasilkan melalui penyelesaian tugas yang berhasil. Metode komunikatif dapat dilakukan dengan teknik menulis dialog. Siswa menulis dialog tentang yang mereka lakukan dalam sebuah aktivitas. Kegiatan ini dapat dilaksanakan perseorangan maupun kelompok.
Desain yang bermuatan metode komunikatif harus mencakup semua keterampilan berbahasa. Setiap tujuan diorganisasikan ke dalam pembelajaran. Setiap pembelajaran dispesifikkan ke dalam tujuan kongkret yang merupakan produk akhir. Sebuah produk di sini dimaksudkan sebagai sebuah informasi yang dapat dipahami, ditulis, diusahakan, atau disajikan ke dalam nonlinguistik. Sepucuk surat adalah sebuah produk. Demikian pula sebuah perintah, pesan, laporan atau peta juga merupakan produk yang dapat dilihat dan diamati. Dengan begitu, produk-produk tersebut dihasilkan melalui penyelesaian tugas yang berhasil. Metode komunikatif dapat dilakukan dengan teknik menulis dialog. Siswa menulis dialog tentang yang mereka lakukan dalam sebuah aktivitas. Kegiatan ini dapat dilaksanakan perseorangan maupun kelompok.
c. Metode Integratif
Integratif berarti menyatukan beberap aspek ke dalam satu proses. Integratif terbagi menjadi interbidang studi dan antarbidang studi. Interbidang studi artinya beberapa aspek dalam satu bidang studi diintegrasikan. Misalnya, menyimak diintegrasikan dengan berbicara dan menulis. Menulis diintegrasikan dengan membaca dan berbicara. Materi kebahasaan diintegrasikan dengan keterampilan bahasa. Sedangkan antarbidang studi merupakan pengintegrasian bahan dari beberapa bidang studi. Misalnya; antarabahasa Indonesia dengan matematika atau dengan bidang studi lainnya. Dalam pembelajaran bahasa Indonesia, integratif interbidang studi lebih banyak digunakan. Saat mengajarkan kalimat, guru tidak secara langsung menyodorkan materi kalimat ke siswa tetapi diawali dengan membaca atau yang lainnya. Perpindahannya diatur secara tipis. Bahkan, guru yang pandai mengintegrasikan penyampaian materi dapat menyebabkan siswa tidak merasakan perpindahan materi. Integratif sangat diharapkan oleh Kurikulum Bahasa Indonesia Berbasis Kompetensi. Pengintegrasiannya diaplikasikan sesuai dengan kompetensi dasar yang perlu dimiliki siswa. Materi tidak dipisah-pisahkan. Materi ajar justru merupakan kesatuan yang perlu dikemas secara menarik. Metode inregratif dapat dilaksanakan dalam pembelajaran mambaca dengan memberi catatan bacaan. Siswa dapat membuat catatan yang diangap penting atau kalimat kunci sebuah bacaan. Dalam melakukan kegiatan membaca sekaligus siswa menulis.
Integratif berarti menyatukan beberap aspek ke dalam satu proses. Integratif terbagi menjadi interbidang studi dan antarbidang studi. Interbidang studi artinya beberapa aspek dalam satu bidang studi diintegrasikan. Misalnya, menyimak diintegrasikan dengan berbicara dan menulis. Menulis diintegrasikan dengan membaca dan berbicara. Materi kebahasaan diintegrasikan dengan keterampilan bahasa. Sedangkan antarbidang studi merupakan pengintegrasian bahan dari beberapa bidang studi. Misalnya; antarabahasa Indonesia dengan matematika atau dengan bidang studi lainnya. Dalam pembelajaran bahasa Indonesia, integratif interbidang studi lebih banyak digunakan. Saat mengajarkan kalimat, guru tidak secara langsung menyodorkan materi kalimat ke siswa tetapi diawali dengan membaca atau yang lainnya. Perpindahannya diatur secara tipis. Bahkan, guru yang pandai mengintegrasikan penyampaian materi dapat menyebabkan siswa tidak merasakan perpindahan materi. Integratif sangat diharapkan oleh Kurikulum Bahasa Indonesia Berbasis Kompetensi. Pengintegrasiannya diaplikasikan sesuai dengan kompetensi dasar yang perlu dimiliki siswa. Materi tidak dipisah-pisahkan. Materi ajar justru merupakan kesatuan yang perlu dikemas secara menarik. Metode inregratif dapat dilaksanakan dalam pembelajaran mambaca dengan memberi catatan bacaan. Siswa dapat membuat catatan yang diangap penting atau kalimat kunci sebuah bacaan. Dalam melakukan kegiatan membaca sekaligus siswa menulis.
d. Metode Tematik
Dalam metode tematik, semua komponen materi pembelajaran diintegrasikan ke dalam tema yang sama dalam satu unit pertemuan. Yang perlu dipahami adalah tema bukanlah tujuan tetapi alat yang digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Tema tersebut harus diolah dan disajikan secara kontekstualitas, kontemporer, kongkret, dan konseptual. Tema yang telah ditentukan harus diolah sesuai dengan perkembangan dan lingkungan siswa. Budaya, sosial, dan religiusitas mereka menjadi perhatian. Begitu pula isi tema yang disajikan secara kontemporer sehingga siswa senang. Apa yang terjadi sekarang di lingkungan siswa juga harus terbahas dan terdiskusikan di kelas. Kemudian, tema tidak disajikan secara abstrak tetapi diberikan secara kongkret. Semua siswa dapat mengikuti proses pembelajaran dengan logika yang dipunyainya. Siswa berangkat dari konsep ke analisis atau dari analisis ke konsep kebahasaan, penggunaan, dan pemahaman.
Dalam metode tematik, semua komponen materi pembelajaran diintegrasikan ke dalam tema yang sama dalam satu unit pertemuan. Yang perlu dipahami adalah tema bukanlah tujuan tetapi alat yang digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Tema tersebut harus diolah dan disajikan secara kontekstualitas, kontemporer, kongkret, dan konseptual. Tema yang telah ditentukan harus diolah sesuai dengan perkembangan dan lingkungan siswa. Budaya, sosial, dan religiusitas mereka menjadi perhatian. Begitu pula isi tema yang disajikan secara kontemporer sehingga siswa senang. Apa yang terjadi sekarang di lingkungan siswa juga harus terbahas dan terdiskusikan di kelas. Kemudian, tema tidak disajikan secara abstrak tetapi diberikan secara kongkret. Semua siswa dapat mengikuti proses pembelajaran dengan logika yang dipunyainya. Siswa berangkat dari konsep ke analisis atau dari analisis ke konsep kebahasaan, penggunaan, dan pemahaman.
e. Metode Konstruktivistik
Asumsi sentral metode konstruktivistik adalah belajar itu menemukan. Artinya, meskipun guru menyampaikan sesuatu kepada siswa, mereka melakukan proses mental atau kerja otak atas informasi itu agar informasi tersebut masuk ke dalam pemahaman mereka. Konstuktivistik dimulai dari masalah (sering muncul dari siswa sendiri) dan selanjutnya membantu siswa menyelesaikan dan menemukan langkah-langkah pemecahan masalah tersebut. Metode konstruktivistik didasarkan pada teori belajar kognitif yang menekankan pada pembelajaran kooperatif, pembelajaran generatif strategi bertanya, inkuiri, atau menemukan dan keterampilan metakognitif lainnya (belajar bagaimana seharusnya belajar).
Asumsi sentral metode konstruktivistik adalah belajar itu menemukan. Artinya, meskipun guru menyampaikan sesuatu kepada siswa, mereka melakukan proses mental atau kerja otak atas informasi itu agar informasi tersebut masuk ke dalam pemahaman mereka. Konstuktivistik dimulai dari masalah (sering muncul dari siswa sendiri) dan selanjutnya membantu siswa menyelesaikan dan menemukan langkah-langkah pemecahan masalah tersebut. Metode konstruktivistik didasarkan pada teori belajar kognitif yang menekankan pada pembelajaran kooperatif, pembelajaran generatif strategi bertanya, inkuiri, atau menemukan dan keterampilan metakognitif lainnya (belajar bagaimana seharusnya belajar).
f. Metode Kontekstual
Pembelajaran kontekstual adalah konsepsi pembelajaran yang membantu guru menghubungkan mata pelajaran dengan situasi dunia nyata dan pembelajaran yang memotivasi siswa agar menghubungkan pengetahuan dan terapannya dengan kehidupan sehari-hari sebagai anggota keluarga dan masyarakat (Ardina, 2001). Pembelajaran dengan menggunakan metode ini akan mempermudah dalam pembelajaran menulis. Anak dimotivasi agar mampu menulis. Menurut Nur (2001) pengajaran kontekstual memungkinkan siswa menguatkan, memperluas, dan menerapkan pengatahuan dan keterampilan akademik mereka dalam berbagai macam tatanan dalam sekolah dan di luar sekolah agar siswa dapat memecahkan masalah dunia nyata atau masalah yang disimulasikan. Sebenarnya siswa dalam belajar tidak berada di awan tetapi berada di bumi yang selalu menyatu dengan tempat belajar, waktu, situasi, dan suasana alam dan masyarakatnya. Untuk itu, metode yang dianggap tepat untuk mengembangkan pembelajaran adalah metode kontekstual (Contextual Teaching and Learning). Adapun metode ini dapat diterapkan dalam salah satu pembelajaran menulis deskripsi. Siswa dapat belajar dalam situasi dunia nyata tidak dalam dunia awang-awang.
Pembelajaran kontekstual adalah konsepsi pembelajaran yang membantu guru menghubungkan mata pelajaran dengan situasi dunia nyata dan pembelajaran yang memotivasi siswa agar menghubungkan pengetahuan dan terapannya dengan kehidupan sehari-hari sebagai anggota keluarga dan masyarakat (Ardina, 2001). Pembelajaran dengan menggunakan metode ini akan mempermudah dalam pembelajaran menulis. Anak dimotivasi agar mampu menulis. Menurut Nur (2001) pengajaran kontekstual memungkinkan siswa menguatkan, memperluas, dan menerapkan pengatahuan dan keterampilan akademik mereka dalam berbagai macam tatanan dalam sekolah dan di luar sekolah agar siswa dapat memecahkan masalah dunia nyata atau masalah yang disimulasikan. Sebenarnya siswa dalam belajar tidak berada di awan tetapi berada di bumi yang selalu menyatu dengan tempat belajar, waktu, situasi, dan suasana alam dan masyarakatnya. Untuk itu, metode yang dianggap tepat untuk mengembangkan pembelajaran adalah metode kontekstual (Contextual Teaching and Learning). Adapun metode ini dapat diterapkan dalam salah satu pembelajaran menulis deskripsi. Siswa dapat belajar dalam situasi dunia nyata tidak dalam dunia awang-awang.
Sabtu, 17 Desember 2011
STATEMENT POSITIF MEMBACA
Sastra Nusantara
SASTRA NUSANTARA
BENTUK SASTRA MELAYU AWAL
(PROSA/ CERITA PELIPUR LARA DAN CERITA BINATANG)
A. PENDAHULUAN
Hampir semua ahli sepakat bahwa Sastra Indonesia Lama tidak diketahui kapan munculnya. Yang dapat dikatakan adalah bahwa Sastra Indonesia Lama muncul bersamaan dengan dimulainya peradaban bangsa Indonesia, sementara kapan bangsa Indonesia itu ada juga masih menjadi perdebatan. Yang tidak disepakati oleh para ahli adalah kapan sejarah sastra Indonesia memasuki masa baru. Ada yang berpendapat bahwa Sastra Indonesia Lama berakhir pada masa kebangkitan nasional (1908), masa Balai Pustaka (1920), masa munculnya Bahasa Indonesia (1928), ada pula yang berpendapat bahwa Sastra Indonesia Lama berakhir pada masa Abdullah bin Abdulkadir Munsyi (1800-an).
Alhasil, ada dua versi besar periodisasi sastra Indonesia. Versi pertama adalah bahwa sejarah sastra Indonesia dikelompokkan menjadi tiga kelompok besar yaitu 1) Sastra Indonesia Lama, 2) Sastra Indonesia Baru, dan 3) Sastra Indonesia Modern. Sedangkan versi kedua membagi sejarah sastra Indonesia menjadi empat kelompok besar, yaitu 1) Sastra Indonesia Lama, 2) Sastra Indonesia Peralihan, 3) Sastra Indonesia baru, dan 4) Sastra Indonesia Modern.
Sastra Indonesia Lama adalah masa sastra mulai pada masa pra-sejarah (sebelum suatu bangsa mengenal tulisan) dan berakhir pada masa Abdullah bin Abdulkadir Munsyi. Ada juga yang mengatakan bahwa sastra Indonesia lama berakhir pada masa balai Pustaka. Sastra Indonesia Lama tidak dapat digolong-golongkan berdasarkan jangka waktu tertentu (seperti halnya Sastra Indonesia baru) karena hasil-hasil dari sastra masa ini tidak mencantumkan waktu dan nama pengarangnya.
Berdasarkan bentuknya, sastra Indonesia Lama dibagi menjadi dua
a. Prosa lama
b. Puisi Lama
a. Prosa lama
1. Dongeng/ cerita Pelipu Lara
2. Hikayat
3. Sejarah /silsilah
4. Kitab-kitab (bersifat keislaman)
b. Prosa baru
1. Biografi
2. Otobiografi
3. Kisah perjalanan
4. Roman
5. Novel
6. Cerita pendek
7. Kritik
8. Essai
9. Studi
10. Drama
Pada kesempatan ini, kelompok penulis akan membahas cerita Pelipur Lara dan cerita binatang atau fabel, yang termaktub dalam bagian prosa lama.
B. PEMBAHASAN
A. PROSA LAMA
1. Dongeng
Dongeng adalah prosa cerita yang isinya hanya khayalan saja, hanya ada dalam fantasi pengarang. Dongeng(berdasarkan isi) dapat dibedakan menjadi fabel, legenda, mithe, sage, parable,dan penggeli hati. Dalam pembahasannya, penulis akan membahas mengenai fabel / cerita binatang saja.
Keberadaan fabel tidak memiliki asal-usul yang jelas. Ada beberapa sumber yang mengatakan, bahwa fabel berasal dari India dan Yunani, tetapi ada juga yang berpendapat, bahwa fabel ini berasal dari Mesir dan Babylonia.
Terciptanya fabel ini diduga sebagai salah satu bentuk awal dari pengolahan pemikiran manusia yang berkembang secara independen di daerah-daerah yang berbeda. Meskipun demikian, fabel yang berasal dari daerah yang berbeda-beda dapat menggambarkan kondisi yang sama dengan pesan moral yang sama dan disampaikan melalui cara yang kurang lebih serupa.Aesop (+/- 500 SM), seseorang yang berkebangsaan Yunani, disebut-sebuta telah mengumpulkan fabel-fabel tradisional dari India dan Yunani.
Terciptanya fabel ini diduga sebagai salah satu bentuk awal dari pengolahan pemikiran manusia yang berkembang secara independen di daerah-daerah yang berbeda. Meskipun demikian, fabel yang berasal dari daerah yang berbeda-beda dapat menggambarkan kondisi yang sama dengan pesan moral yang sama dan disampaikan melalui cara yang kurang lebih serupa.Aesop (+/- 500 SM), seseorang yang berkebangsaan Yunani, disebut-sebuta telah mengumpulkan fabel-fabel tradisional dari India dan Yunani.
Aesop terkenal dengan fabel-fabelnya yang berjumlah sangat banyak. Fabel-fabel Aesop ini kemudian ditulis ulang oleh Babrios dalam bentuk sajak, lalu oleh Phaedrus (+/- 500 SM) dengan menekankan unsur-unsur pendidikan dalam fabel-fabel tersebut, kemudian oleh Avianus (+/- 400 SM) dalam bentuk sajak berbahasa Latin dan juga dalam bentuk prosa. Penggunaan istilah “fabel” sudah dimulai pada masa Phaedrus.
Kemudian, fabel-fabel berbahasa Latin disebarkan sampai ke Jerman pada Abad Pertengahan melalui biara-biara. Pada saat itu, nilai moral dan pengajaran yang terkandung dalam fabel digunakan dalam pengajaran gereja. Pada Zaman Aufklaerung (abad ke 18), kebebasan berpikir, berkehidupan sosial dan politik, membuat fabel muncul kembali, dengan Gotthold Ephraim Lessing sebagai salah satu tokohnya. Pada abad ke 20, konteks fabel dipengaruhi oleh revolusi politik dan industrialisasi.
Kata “Fabel” berasal dari Bahasa Latin, yaitu kata “Fabula” yang berarti “sejarah, narasi, atau percakapan.” Kemudian, dalam dunia sastra, kata fabel didefinisikan sebagai jenis puisi atau prosa dengan menggunakan hewan sebagai para tokohnya.
Pada umumnya, fabel memiliki nilai moral yang tersirat di dalamnya yang disampaikan oleh tingkah laku para hewan-hewan yang memiliki sifat-sifat seperti manusia. Banyak satrawan dan penulis dunia yang juga memanfaatkan bentuk fabel dalam karangannya. Salah seorang pengarang fabel yang terkenal adalah Michael de La Fontaine dari Perancis. Penyair Sufi Fariduddin Attar dari Persia juga menuliskan karyanya yang termashur yakni Musyawarah Burung dalam bentuk fabel. Biasa pada sebuah fabel tersirat moral atau makna yang lebih mendalam (Wikipedia, 2010).
Fabel, yaitu dongeng tentang kehidupan binatang. Fabel juga dapat diartikan sebagai dongeng tentang binatang yang dapat berkata-kata dan berpikir seperti manusia dalam kehidupan sehari-hari. Di dalamnya terdapat ajaran-ajaran hidup yang berharga. Dogeng tentang kehidupan binatang ini dimaksudkan agar menjadi teladan bagi kehidupan manusia pada umumnya. (Menurut Dick hartoko dan B. Rahmanto, yang dimaksud fabel adalah cerita singkat, sering dalam bentuk sanjak, yang bersifat didaktis bertepatan dengan contoh yang kongkret. Tumbuh-tumbuhan dan hewan ditampilkan sebagai makhluk yang dapat berpikir, bereaksi, dan berbicara sebagai manusia. Diakhiri dengan sebuah kesimpulan yang mengandung ajaran moral).
Selain itu fabel juga merupakan dongeng tentang binatang atau benda-benda lain yang mengandung nilai pendidikan. Binatang atau benda tersebut merupakan perumpamaan atau lambang saja. Peristiwa ceritanya merupakan kiasan tentang pelajaran kesusilaan dan keagamaan.
Pada umumnya orang mengatakan, bahwa Esopus lah pujangga fabel yang pertama, seorang pujangga Yunani yang diduga hidup pada abad VI sebelum Masehi. Dongeng Esopus ini kemudian banyak dijumpai kembali dalam dongeng binatang yang ditulis oleh La Fontaine pada abad ke-17.
Dalam dongeng binatang bangsa Indonesia, Kancil (Pelanduk) banyak dipergunakan sebagai simbul, karena binatang ini dipandang cerdik dan penolong binatang-binatang lain yang dalam kesulitan. Dalam dongeng binatang bangsa Belanda, Beruang-lah yang dipergunakan sebagai simbulnya, seekor binatang yang licik, busuk, penuh tipu muslihat; kebalikan dari Kancil cerdik Indonesia.
Menurut Dias khadijah Kinanthi Noer, elemen-elemen fabel meliputi:
1) Tokoh. Tokoh-tokoh hewan dalam suatu fabel biasanya tidak berjumlah terlalu banyak. Tokoh-tokoh yang sering muncul antara lain singa, rubah, serigala, keledai, kelinci, dan burung gagak. Beberapa hewan lain yang juga digunakan, tetapi tidak terlalu sering adalah domba, tikus, katak, landak, sapi, dan ular.
Karakter suatu tokoh hewan cenderung akan sama pada tiap fabel, misalnya seekor rubah selalu digambarkan sebagai hewan yang licik, atau seekor keledai sebagai hewan yang malas. Umumnya, tokoh-tokoh utama dalam fabel memiliki sifat yang bertolak belakang. Hewan-hewan ini mewakili kelompok-kelompok manusia sesuai dengan sifat dan tindakannya dalam menghadapi situasi dalam fabel tersebut. Dengan memiliki sifat-sifat manusia, hewan-hewan tersebut dan pesan yang mereka sampaikan semakin terintegrasi dengan kehidupan manusia.
2) Latar. Pada umumnya, fabel memiliki suasana yang dramatis. Menurut R. Dithmar, fabel adalah narasi yang disisipkan drama dalam bentuk yang paling singkat. Selain itu, mengenai hubungan kisah fabel dengan tempat, waktu, dan aksi, ia menjelaskan lebih lanjut, bahwa dalam fabel, suatu kejadian tertentu berlangsung pada suatu tempat, dalam waktu yang sangat singkat, mencakup suatu dialog yang juga singkat, dan aksi yang cepat, yaitu hanya terdapat satu plot dan tidak ada sub-plot.
3) Pesan Moral. Fabel dianggap sebagai media penyampai pesan moral yang efektif, karena dapat menyampaikan pesan tersebut secara terselubung dan secara lebih halus. Pesan moral dalam fabel lebih mudah diterima, karena tidak disampaikan oleh manusia, tetapi oleh hewan, sehingga tidak terkesan menggurui.
2. Cerita Pelipur Lara
Cerita Pelipur Lara ialah Sejenis sastra rakyat yang pada mulanya berbentuk sastra lisan. Cerita jenis ini bersifat perintang waktu dan menghibur belaka. Kebanyakan menceritakan tentang kegagahan dan kehebatan seorang ksatria tampan yang harus menempuh seribu satu masalah dalam usahanya merebut putri cantik jelita yang akan dipersunting. (Hampir sama dengan hikayat). Selain itu, Cerita pelipur lara juga mnerupakan cerita yang bermaksud untuk menghibur orsng yang sedang sedih, terutama kaum remaja yang sedang terkena asmara. CPL selalu berkaitan dengan hubungan muda-mudi, yaitu pemuda yang mencari pasangannya dengan mengalami berbagai rintangan, tetapi selalu berakhir dengan kebahagiaan. Ceritanya penuh dengan lukisan yang romantic, baik lukisan mengenai para tokohmaupun lukisan tentang tempat (suasana). Tukang cerita pelipur lara disebut pawang.
Ciri-ciri dari Cerita pelipur lara memiliki ciri-ciri, motif dan jenisnya tertentu.. Berikut Ini akan dijelaskan ciri-ciri, motif, dan jenis cerita pelipur lara.
1) Ciri-ciri cerita pelipur lara adalah sebagai berikut:
a) Selalu ada lukisan yang indah dan berulang-ulang.
b) Kaya dengan fantasi, misalnya bidadari dari khayangan.
c) Pertemuan antara pria dan wanita selalu dengan tokoh perantara yang diberi nama: Nenek Kebayan, Bujang Selamat, si Berkat, si Kembang Manik, atau si Kembang Jinak.
2) Motif cerita pelipur lara adalah sebagai berikut:
a) Selalu ada motif impian.
b) Cara mendapatkan wanita selalu dengan mencuri pakaian bidadari sehingga bidadari tak bias pulang ke khayangan .
c) Selalu ada syarat dari wanita.
d) Selalu ada ingkar janji yang mengakibatkan perpisahan.
3) Macam-macam Cerita Pelipur lara adalah sebagai berikut:
a) Hikayat Nalim Deman
b) Hikayat anggun Cik Tunggal
c) Hikayat Raja Budiman
d) Hikayat Raja Ambon
e) Hikayat si Miskin
Peranan “Pelipur Lara” dalam masyarakat lama adalah sebagai seorang ahli cerita yang pandai memikat dan menarik perhatian orang yang mendengarkan, sehingga dapat menghibur hati yang sedang duka atau rawan. Dikatakan juga “Pelipur Lara” itu melagukan ceritanya.
Teori Sastra
ANALISIS UNSUR-UNSUR INTRINSIK NASKAH DRAMA NYARIS KARYA NANO RIANTIARNO
· Sekilas tentang pengarang
Norbertus Riantiarno atau biasa dikenal dengan nama Nano Riantiarno adalah seorang aktor, penulis, sutradara, wartawan, dan tokoh teater Indonesia. Suami dari seorang aktris bernama Ratna ini lahir di Cirebon, Jawa Barat, pada 6 Juni 1949. Nano telah berteater sejak 1965, di kota kelahirannya. Setamatnya dari SMA pada 1967, ia melanjutkan kuliah di Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI) Jakarta. Kemudian pada 1971 ia masuk ke Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara di Jakarta. Ia bergabung dengan Teguh Karya (salah seorang dramawan terkemuka Indonesia) dan ikut mendirikan Teater Populer pada 1968. Pada 1 Maret 1977 ia mendirikan Teater Koma, salah satu kelompok teater yang paling produktif di Indonesia saat ini. Hingga 2006, kelompok ini telah menggelar sekitar 111 produksi panggung dan televisi.s
· Cerita
Drama ini menceritakan suatu kejadian pada saat Belanda melancarkan Aksi Polisi II dan semangat seluruh bangsa Indonesia untuk merdeka sedang sangat bergelora. Mewakili semangat juang bangsa Indonesia melawan Belanda, ada sekelompok pemuda yang tergabung dalam pasukan gerilya. Mereka dipimpin oleh seorang pemuda bernama Amir. Dalam pasukan itu ada beberapa orang yang terlibat, yaitu Laki-laki I, Laki-laki II, Laki-laki III, Gadis, dan Pemuda. Selain itu, ada seorang wanita yang menjadi agen mereka, yaitu Etek.
Sebagai pemimpin gerakan pemberontakan melawan Belanda itu, Amir memerintahkan anggotanya untuk meledakkan gedung mesiu Belanda. Dari tempat tinggalnya masing-masing, mereka melakukan penyamaran untuk melintasi kota sehingga bisa sampai di gudang candu milik Etek yang dijadikan tempat pertemuan rahasia. Akan tetapi, setibanya di sana, mereka terperangkap oleh serdadu Belanda yang mengepung gudang bawah tanah itu. Saat itu Etek berada di luar gudang. Ia yang merupakan agen mereka ditangkap dan disiksa oleh pasukan Belanda agar memberi keterangan tentang keberadaan pasukan gerilya itu. Sementara, di dalam gudang bawah tanah itu, pasukan gerilya berjuang mempertahankan hidup mereka tanpa makanan dan minuman sedikitpun. Di ruangan gelap yang tak bisa melihat apapun di luar itu, mereka bersabar menanti kedatangan Etek yang telah berjanji akan menyelamatkan dan membawa mereka keluar dari gudang itu sembilan jam setelah mereka masuk. Namun, sampai waktu yang ditentukan, khususnya Lelaki I menduga bahwa Etek adalah pengkhianat yang telah melaporkan keberadaan mereka di gudang itu demi keselamatan dirinya sendiri. Ternyata, dugaan mereka salah. Etek tetap merahasiakan keberadaan mereka meskipun telah disiksa oleh Serdadu Belanda. Serdadu Belanda mendatangi tempat persembunyian itu atas inisiatifnya sendiri. Akhirnya, Serdadu Belanda mendapati mereka berada di gudang itu dan menembak mereka, kecuali Amir sebab Amir berhasil menyelinap keluar ruangan ketika Serdadu Belanda membuka pintu masuk gudang itu.
· Pemplotan
Secara umum, pemplotan dalam naskah drama ini menggunakan pola progresif, artinya menggunakan alur maju. Hal itu terlihat dari beberapa kutipan, pada saat awal cerita yaitu di gudang bawah tanah dan berakrih dengan kematian. Namun, ditinjau dari urutan peristiwa yang terjadi, pemplotan mengikuti beberapa tahapan, yaitu penyituasian, pemunculan konflik awal, peningkatan konflik, klimaks, dan penyelesaian. Berikut ini adalah kutipan tidak langsung mengenai plot tersebut. Juga ada pengulangan cerita oleh masing-masing tokoh yang menceritakan kisah mereka (flash back).
- Penyituasian
Pada tahap ini, penulis memperkenalkan tokoh-tokoh melalui uraiannya. Ia memberi gambaran situasi kepada pembaca tentang hal-hal umum mengenai para tokoh yang terlibat dalam cerita, latar yang digunakan, dan sudut pandang pengarang dalam cerita itu. Pada tahap ini juga sudah terlihat bagaimana pengarang membahasakan tulisannya. Dalam naskah drama ini, pada tahap awal penulis memperkenalkan beberapa tokoh inti, seperti Amir, Laki-laki I, Laki-laki II, Laki-laki III, Gadis, Pemuda, Serdadu I, dan Serdadu II. Tokoh Amir dan Laki-laki I,II,III, dan Gadis adalah satu tim yang dusebut geriliawan. Beberapa tokoh lain yang dipandang sebagai tokoh tambahan juga diperkenalkan, seperti Etek, Serdadu I, Serdadu II, dan Pemuda. Akan tetapi, pada tokoh-tokoh tersebut belum tampak konflik dan belum ada hubungan dengan tokoh-tokoh inti lain yang terlibat dalam konflik. Ia jga mendeskripsikan tentang perjuangan sebuah tim yang disebut gerilawan yang sedang berjuang untuk menghancurkan kolonial Belanda. Situasi tempat dan suasana digambarkan secara jelas oleh penulis dalam naskah drama ini
- Pemunculan konflik awal
Konflik awal mulai terlihat dari dialog tokoh. Amir dan teman-temanya mulai saling menyalahkan dan berburuk sangka kepada Etek, mereka menyalahkan Etek yang menyuruh mereka bersembunyi digudang bawah tanah yang merupakan tempat penyimpanan kecap. Rasa lapar dan haus yang membuat mereka semakin yakin kalau Etek dan kolonial Belanda telah membiarkan mereka mati kelaparan didalam gudang penyimpanan kecap itu. Beberapa konflik ringan terjadi pada tahap awal pemunculan konflik ini, seperti adanya perbedaan pendapat antar teman, ada yang menuduh Etek telah menelantarkan mereka, ada juga yang membela Etek dan berusaha terus sabar menunggu sampai Etek membukakan pintu dan membebaskan mereka dari gudang penyimpanan kecap yang tanpa satupun makanan dan minuman tersedia
- Peningkatan konflik
Peningkatan konflik mulai muncul ketika mereka memperebutkan lampu sebagai satu-satunya sumber cahaya diruangan yang gelap gulita itu. Juga pada saat serdadu I dan serdadu II memasuki gudang untuk memastikan pernyataan Etek bahwa dia(Etek) tidak menyembunyikan para gerilyawan digudang penyimpanan kecap.
- Klimaks
Muncul puncak konflik pada saat keributan yang dibuat oleh perdebatan antar teman yang didengar oleh serdadu I dan II. Keributan inilah yang membuat mereka ketahuan bersenbunyi digudang penyimpanan kecap yang membuat mereka ditembak mati oleh serdadu-serdadu Belanda itu.
- Penyelesaian
Akhir dari cerita yang disampaikan penulis adalah kematian para gerilyawan yang ditembak mati oleh serdadu Belanda. Akan tetapi tidak semua anggota gerilyawan itu meninggal, ada satu tokoh yang berhasil selamat dari sergapan serdadu-serdadu itu, tokoh yang dimaksud adalah Amir. Tokoh yang bernama Etek belum diketahui keadaan yang pasti akan nasibnya setelah dianiaya oleh serdadu-serdadu Belanda yang ingin menanyakan apakah dia menyembunyikan gerilyawan.
Latar atau setting :
Di sebuah ruang bawah tanah yang dulunya dipakai sebagai gudang penimbun candu. Ruang itu seluruhnya terbuat dari batu, kemudian terdapat pat tong-tong kecap dan karung-karung beras, peti kosong dan potongan-potongan kertas kecil panjang yang berserakan di lantai dan pojok-pojok ruangan. Pintu yang menghubungkan ruangan itu dengan dunia luar hampir-hampir tak kelihatan, sedangkan ruangan itu masih memiliki satu anak ruangan yang berpintu kayu, kelihatan kekar dan mencicit kalau dibuka dan ditutup.
Penokohan
Amir :
Pemimpin gerilya yang mengayomi rekan-rekannya dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Ia adalah seorang tokoh yang tegas serta memiliki rasa solidaritas yang tinggi. Serta ucapannya yang bisa meyakinkan rekan-rekan yang lain.
Contoh dialog Amir yang memiliki solidaritas yang tinggi :
Tidak mungkin. Aku masih percaya sama Etek. Dia kawanku.
Contoh dialog dari gadis untuk Amir :
Sedikitnya, omongan-omongnnya mampu meyakinkan aku.
- Laki-laki I :
Anggota gerilya yang mengikuti memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Ia berkarakter egoisme yang tinggi dan berburuk sangka dengan teman pemimpinnya sendiri.
Contoh dialog :
-Si Etek telah mengkhianati kita.
-Dia Cuma berpesan begitu, tapi siapa yang tahu kalau secara diam-diam dia beri tahu bahwa kita semua berada disini?
- Laki-laki II :
Rekan yang juga ikut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Ia berkarakter tenang tetapi tidak konsisten dengan karakternya.
Contoh dialog :
- Gelisah kau menyebabkan keputusasaan. Cobalah tenang sedikit. Duduk di sini diam-diam jangan bicara seperti yang lain.
- akan aku hitung sampai tiga kali, kalau kau tidak segera memberikan lampu itu kepadaku, aku tidak tahu lagi apa yang terjadi selanjutnya.
- Laki-laki III :
Rekan Amir yang juga ikut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. berkarakter pintar namun egois.
Contoh dialog : - dia terlalu penuh perhitungan dan yakin akan dirinya sendiri. Terlalu sadar akan perjuangannya dan terlalu mementingkan pemberontakannya yang dia anggap ada diatas segala-galanya.
- Gadis :
Anggota palang merah, masih sangat muda dan cantik. Memiliki karakter bijaksana dan sabar
Contoh dialog : Sudalah, yang penting kita semua sudah selamat. Pertengkaran-pertengkaran hanya akan bikin suasana yang tidak enak saja.
- Pemuda :
Adik yang selalu mengikuti Gadis kemana-mana. Berkarakter taat kepada ke dua orang tuanya dan menjalankan amanah kedua orangtuanya yang telah tiada.
Contoh dialog : Ibuku sebelum meninggal berpesan padaku bahwa aku harus menjaga kakakku kemanapun dia pergi hingga dia memiliki suami. Dan apapun yang terjadi aku akan taati pesan terakhir ibuku.
- Para serdadu :
Anggota NICA Belanda yang berkarakter Antagonis.
Contoh dialog : Ya, harus begitu, kita beri hadiah setiap orang yang membantu kita dan ganjar dengan hukuman siapa-siapa yang mencoba membantu ekstremis-ekstremis.
Amanat :
Amanat yang bisa kita petik dari tokoh laki-laki III adalah ketika menjadi seorang pemimpin harus beribawa dan mempunyai sikap yang tegas dalam memimpin anggotanya.
Amanat kedua
Bisa diambil dari tokoh Etek dan pemuda, yaitu harus bisa memegang amanat yang diberikan orang lain, walaupun mengemban amanat yang berat
Amanat ketiga
Yang diambil dari tokoh laki-laki I, yaitu berburuk sangka terhadap orang lain tanpa fakta dan bukti yang jelas. Seharusnya kita harus berpikir secara positif
Dalam keidupan, tidak boleh ada dendam karena dendam dapat menimbulkan petaka bagi si pendendam sendiri.
Contohnya bisa dilihat dari peristiwa yang dialami para tokoh seperti Laki-laki I, II, III, Gadis dan pemuda.
Tema
Tema utama naskah drama ini adalah Perjuangan untuk meloloskan diri dari komplotan Belanda namun tak memuahkan hasil. Akan tetapi , ada beberapa tema kecil yang mendukung cerita ini, yaitu usaha rakyat tokoh Etek untuk menyelamatkan teman-temanya, perselisihan pendapat di ruang bawah tanah, perencanaan untuk meledakan gedung mesiu, dan usaha yang tidak memuahkan hasil.
Tema dapat digolongkan beberapa katagori yang berbeda tergantung dari segi mana penggolongan itu dilakukan. Salah satunya tema dalam penggolongan dikhotomis yang bersifat tradisional dan nontradisional. Tema tradisional ialah tema yang hanya menunjuk itu itu saja, dalam arti ia telah lama dipergunakan dan dapat ditemukan dalam berbagai cerita.Tema jenis ini bersifat universal. Tema nontradisional yakni tema yang mungkin tidak sesuai dengan harapan pembaca, bersifat melawan arus, mengejutkan, bahkan boleh jadi mengesalkan, mengecewakan, atau berbagai reaksi afektif yang lain.
Tema pada naskah drama nyaris karya Nano Riantiarno ini tergolong tema nontradisional karena mengangkat sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan pembaca dan mengejutkan seperti peristiwa tiba-tiba semuanya ditembak mati oleh koloni belanda serta mengesalkan dan mengecewakan.
¨ Bahasa
Gaya bahasa adalah cara pengucapan bahasa dalam prosa atau bagaimana seorang pengarang mengungkapkan sesuatu yang akan dikemukakan. Dalam pengungkapan bahasa, bentuk percakapan di naskah drama Nyaris ini, seolah-olah penulis membiarkan pembaca untuk melihat dan mendengar sendiri kata-kata seorang tokoh, percakapan antartokoh, bagaimana wujud kata-katanya, dan apa isi percakapannya.
Membaca sebuah naskah drama biasanya kita akan merasakan adanya nada bahasa dan suasana tertentu yang tersirat dari drama tersebut, khususnya yang disebabkan efek pemilihan ungkapan bahasa. Dalam naskah drama yang berjudul Nyaris, penulis menyiratkan nada yang bersifat mengharukan, kasar, dan sinis.
Contoh nada kasar.
Pemuda : Padanya, bukan aku.
Laki-laki I : Persetan, aku sudah minta maaf.
Laki-laki II : Hei, jangan berteriak, bodoh !. Nanti bisa kedengaran dari luar.
Salah satu contoh nada sinis yaitu sebagai berikut.
Amir : Bicara yang terang?
Laki-laki II : Ayo kawan, jangan berbelit-belit.
Laki-laki I : Si Etek telah mengkhianati kita.
Laki-Laki II : Jangan menuduh sembarangan !
Dari dialog di atas terlihat nada ucapan Laki-laki I yang curiga atau sinis kepada si Etek dan menuduh Etek mengkhianati mereka padahal belum pasti kebenarannya.
Contoh nada mengharukan.
Laki-laki II : Nahhhhh..
Gadis : Dia satu-satunya saudaraku yang masih kecil.
Laki-laki II : Ohh?
Gadis : Sebuah bom menghancurkan rumah keluargaku dan seluruhnya musnah.
Tak ada sisa-sisa sedikitpun. Cerita lama, semua mati? Tidak, 2 orang pelayanku masih hidup di samping aku dan dia. Aku tidak punya apa-apa lagi sekarang. Dia juga tak memiliki siapa-siapa lagi sekarang. Itu sebabnya kami sangat akrab kelihatannya.
Hubungan antar Unsur
Jika disimpulkan, setiap unsur intrinsik dalam drama ini memiliki hubungan yang sangat erat. Pengarang menangkat permasalahan ini karena kondisi sosial masyarakat sekarang yang sudah sepatutnya mengetahui kehidupan masa silam, kehidupan yang penuh perjuangan. Secara umum, pemplotan dalam naskah drama ini menggunakan pola progresif, artinya menggunakan alur maju. Hal itu terlihat dari beberapa kutipan, pada saat awal cerita yaitu di gudang bawah tanah dan berakrih dengan kematian. Pengarang menuliskan ceritanya dengan terlebih dahulu mengungkapkan kejadian saat ini untuk meningkatkan ingatan pembaca dengan keadaan yang sedang dialami dala m drama ini. Tokoh-tokoh yang digunakan dalam drama ini adalah tokoh dari berbagai kalangan baik itu rakyat biasa maupun para pejuang. Hal itu menunjang permasalahan dalam drama ini. Nama tokoh pun disesuaikan dengan permasalahan yang terkandung di dalam cerita. Misalnya saja penulis menggunakan nama Amir. Nama itu cukup banyak dimiliki oleh masyarakat sekarang. Nama seperti laki-laki 1, laki-laki 2, laki-laki 3, pemuda dan Gadis semakin memperkuat tokoh dengan latar tempat. Kehidupan sosial juga berkaitan erat dengan tema. Demi melwan kerasnya kehidupan, pada saat itu banyak sekali perjuangan-perjuangan yang tak kenal lelah terus dilakukan demi tujuan bersama. Tema-tema kecil yang diangkat pengarang pun begitu mengingatkan dengan masa silam. Bahasa yang digunakan sesuai dengan latar dan kondisi sosial masyarakat di dalm drama ini.
Langganan:
Postingan (Atom)
