Asas – Asas Pokok Pendidikan
Asas pendidikan merupakan semua kebenaran yang menjadi dasar atau tumpuan berpikir, baik pada tahap perancangan maupun pelaksanaan pendidikan.Dimensi Hakikat manusia yakni, keindividualan, kesosialan, kesusilaan dan keberagaman.Salah satu dasar utama pendidikan adalah bahwa manusia itu dapat dididik dan dapat mendidik diri sendiri.
Khusus untuk pendidikan di Indonesia, terdapat sejumlah asas yang memberi arah dalam merancang dan melaksanakan pendidikan itu. Asas – asas tersebut bersumber baik dari kecendrungan umum pendidikan di dunia maupun yang bersumber dari pemikiran dan pengalaman sepanjang sejarahupaya pendidikan di Indonesia.
Asas yang di pandang sangat relevandengan upaya pendidikan, baik masa kini maupun masa depan, asas tersebut ada tiga yakni ;
- Asas Tut Wuri Handayani
- Asas Belaar Sepanang Hayat
- Asas Kemandirian Dalam Belajar
Setiap tenaga kependidikan harus memahami dengan tepat ketiha asas tersebut agar dapat menerapkannya dengan semestinya dalam penyelenggaraan pendidikan sehari– hari.
1. Asas Tut Wuri Handayani
Asas Tut Wuri Handayani, yang kini menadi semboyan Depdikbud, pada awalnya merupakan salah satu dari “Asas 1992” yakni tuuh buah asas dari Perguruan Nasional Taman Siswa (didirikan 3 Juli 1992).Asas yang dikumandangkan oleh Ki Hajar Dewantara ini mendapat tanggapan positif dari R.M.P. Sostrokartono (filsuf dan ahli bahasa) dengan menambahkan dua semboyan untuk mwlengkapinya, yakni
- Ing Ngarso Sung Tulada, dan
- Ing Madya Mangun Karsa
Kini ketiga semboyang tersebut telah menyatu menjadi satu kesatuan asa, yakni :
Ø Ing Ngarso Sung Tulada ( jika di depan, menjadi contoh )
Ø Ing Madya Mangun Karsa ( jika di tengah – tengah membangkitkan kehendak, hasrat atau motivasi) dan
Ø Asas Tut Wuri Handayani ( jika di belakang, mengikuti dengan awas )
Ada tujuh asas Perguruan Nasional Taman siswa yang merupakan asas peruangan untuk menghadapi Pemerintahan Kolonial Belanda serta sekaligus untuk mempertahankan kelangsungan hidup dan sifat yangnasional dan demokrasi.
Ketuuh asas tersebut yang secara singkat disebut “Asas 1922” adalah sebagai berikut :
a. Bahwa setiap orang mempunyai hak untuk mengatur dirinya sendiri dengan mengingat tertibnya persatuan dalam perkehidupan umum.
b. Bahwa pengaaran harus memberi pengetahuan yang berfaedah, yang dalam arti lahir dan batin dapat memerdekankan diri.
c. Bahwa pengaaran harus berdasar pada kebudayaan dan kebangsaan sendiri.
d. Bahwa pengaaran harus tersebar luas sampai dapat menjangkau kepada seluruh rakyat.
e. Bahwa untuk mengejar kemerdekaan hidup yang sepenuh – penuhnya lahir maupun batin hendaklah diusahakan dengan kekuatan sendiri, dan menolak bantuan apapun dan dari siapa pun yang mengikat, baik berupa ikatan lahir maupun ikatan batin.
f. Bahwa sebagai konsekuaensi hidup dengan kekuatansendiri maka mutlak harus membelanjai sendiri segala usaha yang dilakukan.
g. Bahwa dalam mendidik anak – anak perlu adanya keikhlasan lahir dan batin untuk mengorbankan segala kepentingan pribadi demi keselamatan dan kebahagiaan anak – anak.
2.Asas Belajar Sepanjang Hayat
Asas belajar sepanjang hayat (life long learning) merupakan sudut pandang sisi lain terhadap pendidikan seumur hidup (life long education ). UNESCO Institute for Education (UIE Hamburg) menetapkan suatu definisi kerja yakni pndidikan seumur hidup adalah pendidikan yang harus :
§ Meliputi seluruh hidup setiap individu
§ Mengarah kepada pembentukan, pembaruan, peningkatan, dan penyempurnaan secara sitematis pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dapat meningkatkan kondisi hidupnya.
§ Tujuan akhir adalah mengembangkan penyadaran diri (self fulfilment) setiap individu
§ Meningkatkan kemampuan dan motivasi untuk belajar mandiri.
§ Mengakui kontribusi dari semua pengaruh pendidikan yang mungkin terjadi, termasuk yang formal, non-formal dan informal.
Kurikulum yang dapat mendukung terwujudnya belaar sepanjang hayat harus dirancang dan diimplementasi dengan memperhatikan dua dimensi (Hameyer, 1979: 67-81; Sulo Lipu La Sulo, 1990 : 28-30) sebagai berikut:
a. Dimensi vertikal dari kurikulum sekolah.
Yang termasuk dimensi vertikal antara lain pengkajian tentang :
1. Keterkaitan antara kurikulum dengan masa depan peserta didik.
2. Kurikulum dan perubahan sosial – kebudayaan.
3. ”The forecasting curiculum” yakni perancnagan kurikulum berdasarkan suatu prognosis, baik tentang perilaku peserta didik pada saat menamatkan sekolahnya, pada saat hidup ia dalam sistem yang sedang berlaku, maupun pada saat ia hidup dalam sistem yang telah berubah di masa depan.
4. Keterpaduan bahan ajaran dan pengorganisasian pengetahuan.
5. Penyiapan untuk memiliki tanggung jawab.
6. Pengintegrasian dengan pengalaman yang telah dimiliki peserta didik.
7. Untuk mempertahankan motivasi belaar secara permanen, peserta didik harus dapat melihat kemanfaatan yang akan didapatnya dengan tetap mengikuti pendidikan itu, seperti kesempatan yang terbuka baginya, mobalitas pekeraan, pengembangan kepribadiannya, dan sebagainya.
b. Dimensi horizontal dari kurikulum sekolah.
Yang termasuk dalam dimensi horizontal antara lain :
1. Kurikulum sekolah merefleksi kehidupan di luar sekolah
2. Memperluad kegiatan belaar di luar sekolah
3. Melibatkan orang tua dan masyarakat dalam kegiatan belaar mengajar.
3. Asas Kemandirian dalam Belajari
Perwujudan asas kemandirian dalam belajar akan menempatkan guru dalam peran utama sebagai fasilitator dan motivator, di samping peran – peran lain : Informator, organisator dan sebagainya. Sebagai fasilitator, guru diharapkan menyediakan dan mengatur berbagai sumber belaar. Sedangkan sebagai motivator, guru mengupayakan timbulnya prakarsa peserta didik untuk memanfaatkan sumber belaar itu.
Cara belajar siswa aktif (CBSA) merupakan salah satu pendekatan yang memberi peluan itu, karena siswa dituntut mengambil prakarsa dan atau memikul tanggung awab tertentu dalam belajar-mengajar di sekolah, umpamanya melalui lembagakerja.
Jenis kegiatan belajar mandiri adalah seperti belajar melalui modul, paket belajar, pengajaran berprogram, dan sebagainya. Setiap lembaga pendidikan, utamanya sekolah, didukung oleh suatu sumber pusat belaar (PSB, PSB inilah yang memberi peluang tersedianya berbagai jenis sumber belajar, di sampiung bahan pustaka di perpustakaan, seperti reklaman elektronik, ruang – ruang belajar (tutorial) sebagai mitra kelas, dan sebagainya. Dengan dukungan PSB itu asas kemandirian dalam belaar akan lebih dimantapkan dan dikembangkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar