Senin, 12 Desember 2011

ANAK PERAWAN DI SARANG PENYAMUN

ANAK PERAWAN DI SARANG PENYAMUN
Karya Sutan Takdir Alisyahbana
Oleh Jaya Paul

SINOPSIS NOVEL

       Haji Sahak nama Seorang saudagar kaya  yang hendak pergi berdagang  ke Palembang. Dari Pagar Alam ke Palembang itu, Haji Sahak membawa puluhan kerbau dan beberapa macam barang dagangan lainnya. Istri dan anak perawannya juga ikut pergi bersamanya ke Palembang.Di tengah perjalanan, rombongan Haji Sahak dihadang oleh segerombolan perampok yang di pimpin Medasing. Haji Sahak, dan
 istrinya , Nyai Hajjah Andun, beserta rombongan dibunuh oleh perampok itu. Akan tetapi, Sayu, anak perawan Haji Sahak itu tidak mereka bunuh. Bahkan dibawa ke sarang penyamun.
       Samad, anak buah Medasing yang tugasnya sebagai pengintai datang ke sarang penyamun untuk meminta bagian dari hasil perampokan Medasing. Namun selama Samad berada di sarang penyamun ,ia langsung jatuh hati pada Sayu. Diam-diam dia berniat membawa Sayu lari dari Sarang penyamun dan berjanji akan mengembalikan Sayu kepada orang tuanya.Pada Awalnya Sayu terbujuk oleh rayuan dan janji-janji Samad itu. Akan Sayu mulai curiga ada niat tidak baik dari Samad. Dia mulai ragu dan tidak percaya dengan janji-janji Samad itu. Dihari yang mereka sepakati untuk lari tersebut, Sayu dengan tegas menolak ajakan Samad. Walaupun dengan berat hati untuk sementara dia akan tetap tinggal di sarang penyamun itu.
       Perampokan Medasing dan kawan-kawan selanjutnya sering mengalami kegagalan, karena rencana mereka selalu dibocorkan oleh Samad. Itu sebabnya, setiap kali mereka menyerang para pedagang atau saudagar yang lewat, mereka pasti mendapat perlawanan .Yang  mengabatnya anak buah Medasing banyak yang meninggal ataupun terluka parah. Lama-kelamaan anak buah Medasing hanya tersisa seorang saja, yaitu Sanip. Betapa hancur hati Medasing menerima kenyataan pahit ini. Malah hatinya semakin pilu, ketika dalam perampokan yang terakhir kali, Sanip orang yang paling dia sayangi itu meninggal. Medasing sendiri terluka parah. Namun bisa menyelamatkan diri.
       Di sarang penyamun itu hanya tinggal Sayu dan Medasing saja. Sewaktu Medasing terluka parah, Sayu bingung sekali. Namun Sayu mendekati Medasing dan mencoba merawat luka-luka yang diderita oleh Medasing. Sayu memberanikan diri mendekati Medasing. Dengan takut-takut dan gemetaran dia mengobati Medasing. Mula-mula mereka berdua tidak banyak biacara, tapi lama kelamaan antara Sayu dan Medasing menjadi akrab. Kemudian Medasing menceritakan  bagaimana ia sebelum menjadi seorang penyamun yang sangat ditakuti sekarang ini, ternyata Medasing bukanlah keturunan seorang penyamun. Medasing keturunan orang baik-baik. Dulu Medasing anak seorang saudagar kaya. Ayah Medasing yang kaya itu dirampok oleh segerombolan penjahat. Kedua orang tuanya dibantai dan dibunuh oleh gerombolan penjahat itu. Dia sendiri, karena masih kecil sekali, tidak dibunuh oleh gerombolan tersebut, melainkan dibawa ke sarang gerombolan dan diangkat sebagai anak oleh ketua gerombolan itu.
        Setelah ayah angkatnya meninggal dunia, pucuk pimpinan gerombolan penyamun langsung dipegang Medasing. Jadi gerombolan perampok yang dia pimpin sekarang ini adalah gerombolan penyamun warisan dari ayah angkatnya. Medasing sendiri tak pernah bercita-cita ingin menjadi penyamun, apalagi menjadi pimpinan perampok. Mendengar cerita itu hati Sayu menjadi luluh juga. Rasa benci dan dendam pada Medasing lama kelamaan menjadi luntur. Kemudian dengan penuh kesabaran dan penuh kasih sayang yang tulus, Sayu merawatnya sampai sembuh.
       Persediaan makanan dalam hutan sudah habis. Sayu sangat khawatir akan keadaan itu. Itulah sebabnya dia mencoba mengajak Medasing agar bersedia keluar dari persembunyiannya. dan akhirnya mereka keluar dari hutan menuju kota Pagar Alam. Sesampainya di kota Pagar Alam, keduanya langsung menuju ke rumah Sayu. Tapi sampai di rumahnya, Sayu sangat terkejut, sebab rumah itu sekarang bukan milik mereka lagi, tapi sudah menjadi milik orang lain. Menurut penuturan penghuni baru itu, ibunya sekarang tinggal di pinggiran kampung. Mendengar itu, kedua orang ini langsung pergi menuju ke tempat Nyai Haji Andun. Ternyata Nyai Haji Andun tidak meninggal sewaktu diserang Medasing dan kawan perampoknya. Dia hanya terluka parah dan berhasil sembuh. Sekarang dia tinggal sendirian di ujung kampong dengan keadaan sakit keras. Disaat ibunya sedang kritis, Medasing dan Sayu muncul dihadapannya. Betapa bahagianya Nyai Haji Andun bertemu dengan anak perawan yang sangat dirindukannya itu. Dan rupanya itulah pertemuan terakhir mereka. Menyaksikan kenyataan itu hati Sayu hancur, Medasing sendiri juga hancur hatinya. Kenyataan telah menyadarkan dirinya betapa kejamnya dia selama ini. Dia begitu menyesal. Dia sangat malu dan berdosa kepada Sayu dan keluarganya.
       Setelah peristiwa  itu Medasing berubah . Dia menjadi seorang hartawann yang sangat penyayang pada siapa saja. Lima belas tahun kemudian Medasing berangkat ke tanah suci. Kembalinya dari tanah suci, ramai orang-orang kampung menyambut kedatangannya dan Medasing mengubah namanya menjadi Haji Karim. Suatu malam, ketika Haji Karim sedang duduk termenung sambil mengenang masa lalunya yang kelam, tiba-tiba pintu rumahnya ada yang mengetuk. Ternyata orang yang mengetuk pintu itu adalah Samad. Haji Karim masih kenal dengan Samad dan mengajak Samad agar bersedia hidup bersamanya. Waktu itu Samad memang tinggal di rumah Haji Karim dan istrinya yaitu Sayu. Namun paginya secara diam-diam Samad meninggalkan rumah Haji Karim. Dia pergi entah kemana, sementara Haji Karim dan keluarganya hidup tenteram dan damai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar